Kamis, 18 Oktober 2012

 

Menurut Achmad Anshori 7A02,

Pada jaman dahulu di daerah Padamara,dekat Sungai Sawing, di Nusa Tenggara Barat hiduplah sebuah keluaraga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain. Mata pencaharian mereka adalah sebagai buruh tani. Setiap hari mereka keliling kedesa-desa menawarkan tenaganya untuk menumbuk padi. Kalau Inaq sedang menumbuk padi, maka kedua anaknya menyertainya. Pada suatu hari, ketika Inaq sedang asyik menumbuk padi, kedua anaknya diletakkan di atas sebuah batu ceper dekat tempat kerjanya.

Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk padi,batu ceper tersebut makin lama makin menaik. Karena merasa seperti diangkat, anak sulung memanggil ibunya, ”Ibu batu ini makin tinggi.” Namun sayangnya Inaq masih tetap sibuk menumbuk padi. Dijawabnya, ”Tunggu sebentar anakku, ibu baru saja memulai menumbuk padi!” Begitulah yang terjadi berulang-ulang. Namun, makin lama batu itu makin tinggi hinga tingginya melebihi tinggi pohon kelapa. Merekapun berteriak sejadi-jadinya. Suara mereka makin lama sayup, bahkan mnghilang atau sudah tidak dapat didengar. Namun Inaq masih tetap sibuk menumbuk padi dan menampi beras. Batu Golog itu makin tinggi hingga membawa kedua anak tersebut ke awan. Mereka menangis sejadi-jadinya. Pada saat itulah Inaq tersadar. Ia berdo’a agar anaknya dapat kembali. Syahdan do’a itu dijawab. Ia diberi kekuatan gha’ib yang berupa sabuk yang diikatkan di pinggangnya.

Sabuk tersebut dapat membelah Batu Golog menjadi tiga bagian. Bagian pertama jatuh di daerah yang diberi nama Desa Gembong Olor, karena tanah di daerah tersebut digetarkan oleh batu yang jatuh. Batu kedua jatuh di daerah yang diberi nama Dasan Batu, karena ada orang yang menyaksikan saat batu itu jatuh. Dan batu terakhir yang jatuh dan menimbulkan suara gemuruh lalu diberi nama Montong Teker. Tetapi kedua anaknya tidak jatuh ke bumi, melankan berubah menjadi dua ekor burung. Anak pertama menjadi Burung Kekuwo dan adiknya menjadi Burung Kelik. Karena mereka berasal dari bangsa manusia, mereka tidak dapat mengerami telurnya.

0 komentar :

Posting Komentar

Berkomentarlah yang sesuai dengan hakekat kebebasan menyampaikan pendapat :D